Senin, 02 Agustus 2010

Dampak Psikososial Pengidap HIV-AIDS

Apa sih yang kita pikirkan kalo tahu seseorang mengidap HIV-AIDS? Takut tertular hingga menjauhkan? Menjudge bahwa dia adalah penyakitan yang dapat menular hingga patut dijauhkan? Menganggap bahwa dia adalah manusia yang tidak patut didampingi?

Sadarkah bahwa dia adalah tetap teman yang sangat memerlukan bantuan? Dirinya pasti mengalami dampak psikososial yang sangat hebat, syok, penyangkalan, kemarahan, kesedihan mengisolasi diri bahkan pikiran atau tindakan bunuh diri.

Terkejut merupakan respon normal terhadap berita yang mengancam kehidupan.

Secara umum reaksi syok termasuk:

q Terdiam, hilangnya perhatian, atau ketidak percayaan;

q Kebingungan, keresahan, atau ketidakpastian mengenai hari ini dan masa depan;

q Putus asa (Oh Tuhan, semuanya menjadi berantakan)

q Emosional tidak stabil (perubahan cepat dan tidak terduga dari menangis sampai tertawa dan terus silih berganti);

q Menarik diri – menjaga jarak dari berbagai keadaan sekitar ; menghindar untuk terlibat dalam percakapan, aktivitas atau rencana pengobatan.

Beberapa orang merespon penyakit mereka dengan menyangkalnya (“Ini tidak mungkin dapat terjadi padaku”).

Sementara waktu, penyangkalan diri dapat menolong untuk mengurangi stres, kalau hal itu terus berlangsung, dapat menghambat perubahan perilaku dan keputusan dalam hidup, terutama untuk mengatasi HIV serta untuk mencegah penularan.

Jika penyangkalan tidak dihadapi, orang tidak dapat menerima tanggung jawab sosial yang berkaitan dengan perjalanan infeksinya..

MARAH TIDAK TERKENDALI KARENA :

Perasaan tidak beruntung dan mereka dapat melakukan tindak merusak seperti melukai diri sendiri atau orang lain.

Perasaan tidak mampu lagi untuk bekerja meski sebetulnya masih mampu. Dengan banyaknya keterbatasan dalam hidup– seperti makan (diet), pekerjaan , kontak sosial secara umum, dan sering menjadi sumber atau sasaran kemarahan orang terdekat.

Dipicu oleh kejadian yang tidak terduga dan kejadian yang sepele.

Perasaan marah pada diri sendiri sering timbul dalam bentuk:

q menghancurkan diri sendiri dengan membiarkan diri terserang HIV tanpa upaya mengobatinya

q atau mencegah berlanjutnya infeksi,

q atau dalam bentuk tingkah laku merusak diri sendir (kecenderungan bunuh diri).

Ketakutan akan kematian, atau kesendirian dalam kesakitan, sangat umum terjadi.

Ketakutan lain adalah karena:

q takut dijauhi,

q ditolak,

q diabaikan atau ditinggalkan anak-anak/keluarga,

q ketidakmampuan mencari nafkah,

q kehilangan fungsi tubuh atau mental,

q dan kehilangan kepercayaan diri.

Ketakutan mungkin didasarkan atas pengalaman orang lain. Hal ini mungkin juga disebabkan kurangnya informasi mengenai HIV/AIDS.

Ketakutan sering dapat dikurangi dengan diskusi secara terbuka dalam konseling.

ODHA dapat bereaksi dengan menarik diri dari seluruh kontak sosial.

Faktor penting yang mendorong situasi ini adalah ketakutan ditolak, dengan pikiran: “Setiap orang akan menolak saya, karena itu lebih baik saya menjauh dari mereka sebelum mereka meninggalkan saya”.

Pada awalnya konselor dapat menghargai perasaan untuk mengisolasi diri sementara waktu , namun dukungan konseling harus terus berlanjut.

Kalau isolasi terus berlarut dalam jangka waktu yang lama, konselor perlu menggali penyebabnya, dan mendorong perubahan sikap ini.

Muncul perasaan bersalah akan kemungkinan:

q menularkan pada orang lain,

q atau mengenai tingkah laku yang menyebabkan

mereka tertular HIV . misalnya:

Ø pengalaman hubungan seks yang tidak aman atau

Ø menggunakan obat-obatan yang disuntikkan).

Ada juga perasaan bersalah karena kesedihan, berpisah dan kehilangan orang-orang serta keluarga yang dicintai

Perasaan bersalah masa lalu yang tidak terselesaikan akan muncul dan memperberat kondisi mental mereka.

ODHA sering merasa harga dirinya terancam

Harga diri seringkali merupakan pemicu terjadinya berbagai sikap agresifitas, irritabilitas, kecemasan dan isolasi diri

Penolakan oleh tetangga, rekan kerja, kerabat dekat, dan orang-orang yang dicintai dapat menyebabkan kehilangan status sosial dan kepercayaan diri, mengarah kepada meningkatnya perasaan tidak berguna.

Pengaruh fisik terkait HIV, contohnya, perubahan rona wajah, menurunnya fungsi fisik dapat memperberat masalah ini

Bunuh diri terjadi sebagai alasan menghindari rasa sakit yang dirasakan sendiri atau mengurangi penderitaan.

Bunuh diri dapat terjadi :

aktif (sengaja melukai diri yang menyebabkan kematian) atau

pasif (tingkah laku merusak diri, sepert menolak pengobatan, menyembunyikan penyakit).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar